Wisata Budaya

Oktober 3, 2011

1. Gedung Negara


Gedung Negara yang dibangun semasa zaman kolonial Belanda tahun 1854 dengan gaya arsitektur Eropa, kini berdiri megah sebagai Kantor Bupati Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Jalan Gandanegara No.25. Disamping gedung ini arsitekturnya antik, juga memiliki nilai sejarah perjuangan bagi masyarakat Purwakarta, baik di masa Pemerintahan kolonial Belanda maupun Pemerintahan Jepang.

 
 

2. Gedung Kresidenan


Gedung kuno kresidenan dengan arsitektur Eropa yang antik, kini terpelihara dengan baik dan diperkirakan dibangun tahun 1854 semasa pemerintahan kolonial Belanda. Kini Gedung kuno tersebut menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV Purwakarta dan terletak di Jalan KK. Singawinata.

 
 

3. Mesjid Agung Purwakarta


Di samping Gedung Negara terdapat Mesjid Agung yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada tahun 1826 M. Atas dorongan dan keinginan masyarakat Purwakarta, Bupati Purwakarta Bapak Drs. H. Bunyamin Dudih, SH, menjadi Ketua Panitia Pembangunan Mesjid Agung Purwakarta. Pada tanggal 25 Juli 1993 mulai dipugar dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya. Kemudian Mesjid Agung Purwakarta diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tanggal 16 Januari 1995. Pada tahun 2010, Mesjis Agung kembali dilakukan renovasi.

 

4. Sentra Pembuatan Keramik Plered


Pembuatan keramik Plered berlangsung turun temurun diperkirakan sejak tahun 1904, sehingga menghasilkan mutu keramik yang baik dan diekspor antara lain ke Jepang, Belanda, Thailand, Singapura dan negara-negara lainnya. Jenis keramik Plered adalah gerabah, terakota dan porselen. Jumlah pengusaha keramik Plered kira-kira 80 unit usaha.Terletak di Desa anjun, 13 km dari kota Purwakarta.

 
 

5. Industri Kain Songket

Kain Songket Purwakarta diproduksi sejak tahun 1956 oleh PT Sinar, terletak di dalam kota Purwakarta. Jenis kain songket antara lain songket Parahyangan `Tjitraresmi`, sarung tenun dan taplak meja, Dayang Sumbu dan lainnya, diekspor ke Brunai dan untuk konsumsi dalam negeri dengan produksi rata-rata 60.250 potong per-tahun.

6. Kesenian Daerah


Kesenian Buncis dan Domyak merupakan kesenian khas Purwakarta, terdapat pula jenis kesenian wayang golek, celempungan, tari-tarian, degung, ketuk tilu, jaipongan, tungbrung, reog, calung dan kesenian-kesenian daerah lainnya.

  
 

7. Makanan Khas dan Cinderamata

Untuk wisata kuliner, Purwakarta merupakan surga bagi para penikmat makanan. Rumah makan tersebar diberbagai tempat, yang menyediakan berbagai makanan khas seperti sate maranggi, ayam goreng atau ayam bakar (bakakak) atau makanan khas sunda lainnya. Disamping itu, panganan khas seperti Simping, Peuyeum Bendul, gula Cikeris, manisan pala, teh hijau, colenak, opak dan lainnya, merupakan oleh-oleh yang wajib dibawa pulang oleh para pendatang.


Selain itu untuk melengkapi kunjungan anda, banyak jenis cinderamata yang dapat dijadikan kenang-kenangan, antara lain keramik Plered, kain Songket, wayang golek, kerajinan bambu, dan lain-lainnya.

_______________________________

Sumber: purwakartakab.go.id

`

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: